• Minggu, 5 Februari 2023

Matahari atau Bumi, Manakah yang akan Musnah Terlebih Dulu?

- Kamis, 4 Maret 2021 | 04:09 WIB
matahari
matahari

Ditulis oleh: Alumni Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Astronomi, Yolana Vichesa, S.Si Ngaderes.com - Benarkah bahwa tidak ada yang abadi di alam semesta ini? Benarkah bahwa nanti Matahari tidak akan bersinar lagi? Lalu, bagaimana nasib kita –makhluk Bumi? Alam semesta diisi oleh bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Di dalam bintang terjadi berbagai reaksi kimia yang menyebabkan bintang dapat menghasilkan energi dan cahaya sendiri. Matahari adalah bintang yang jaraknya paling dekat dengan Bumi, Keberadaan Matahari menjadi sumber energi utama di Tata Surya termasuk Bumi dan kehidupan yang ada di dalamnya. Setiap harinya Matahari terlihat dalam keadaan yang relatif sama baik ukuran maupun intensitas cahaya yang dipancarkan. Namun sebenarnya Matahari mengalami perubahan secara bertahap. Perubahan tersebut terjadi dalam waktu yang sangat lama yaitu mencapai jutaan bahkan miliaran tahun sehingga tidak dapat diamati oleh manusia selama masa hidupnya. Para astronom melakukan pengamatan terhadap berbagai macam bintang untuk memperoleh informasi yang menggambarkan karakteristik masing-masing bintang tersebut seperti usia, massa, struktur, dan komposisi kimia yang terkandung di dalamnya. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mempelajari jejak evolusi bintang. Salah satu metode identifikasi jejak evolusi Matahari dilakukan melalui pengamatan bintang L2 Puppis menggunakan teleskop radio ALMA. Pada 5 miliar tahun yang lalu, bintang ini memiliki karakterisktik yang mirip dengan Matahari sehingga perubahan-perubahan yang dialami bintang L2 Puppis sampai saat ini berusia 10 miliar tahun dapat dijadikan sebagai pembanding dalam memprediksi evolusi Matahari di masa depan. Hingga saat ini Matahari telah berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Selama waktu itu, Matahari telah melewati berbagai tahapan evolusi mulai dari tahap pembentukan bintang hingga kini telah menjadi bintang deret utama. Pembentukan Matahari berawal dari gumpalan materi antar bintang berbentuk gas dan partikel atomik yang kemudian berkontraksi akibat gaya gravitasi. Kontraksi tersebut membuat materi memadat dan temparaturnya meningkat mencapai 150.000 K sehingga terbentuk bayi Matahari yang mulai memancarkan radiasi. Radius bayi Matahari hanya sekitar 50% dari radius Matahari saat ini. Ketika temperatur mencapai 10 juta kelvin, terjadi pembakaran hidrogen menjadi helium di daerah inti. Bayi Matahari kemudian berevolusi menjadi bintang deret utama. Di tahap inilah bintang menghabiskan sebagian besar hidupnya. Matahari akan bertahan sebagai bintang deret utama sekitar 4,5 hingga 5,5 miliar tahun lagi. Reaksi pembakaran di inti membuat jumlah hidrogen terus berkurang sedangkan helium terus bertambah sehingga terbentuk inti Matahari yang didominasi oleh unsur helium. Saat hidrogen habis terbakar, inti Matahari akan mengerut sehingga tekanan dan temperaturnya meningkat. Akibatnya, lapisan yang menyelubugi inti Matahari akan terbakar dan mengembang hingga mencapai 100 kali radius awalnya. Pengembangan ini membuat temperatur permukaan Matahari turun drastis sehingga Matahari akan terlihat berubah warna dari kuning menjadi merah. Pada tahap ini Matahari disebut dengan bintang raksasa merah.

Matahari menelan planet

Proses pengembangan selubung Matahari diiringi dengan lontaran massa akibat adanya angin Matahari yang sangat kencang. Lontaran tersebut menyebabkan massa Matahari berkurang dan gaya gravitasinya melemah sehingga stabilitas Tata Surya terganggu. Dampaknya, orbit planet-planet di Tata Surya akan menjauh dari semula. Namun kecepatan pengembangan selubung inti Matahari lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan orbit planet menjauh sehingga planet Merkurius lebih dahulu tertelan oleh selubung inti Matahari. Jarak Venus dan Bumi terhadap Matahari menjadi semakin dekat. Semua air yang terkandung di Bumi mengering karena temperatur Bumi menjadi sangat tinggi. Keadaan tersebut akan melenyapkan kehidupan di Bumi. Pengembangan selubung inti Matahari terus berlanjut hingga akhirnya menelan Bumi dan orbitnya. Saat temperatur mencapai 100 juta kelvin, pusat helium terbakar menjadi karbon dan oksigen. Energi pembakaran yang dihasilkan membuat temperatur pusat semakin meningkat sehingga kesetimbangan pusat terganggu. Selubung inti Matahari terdorong ke arah luar berkali-kali, Pada tahap ini Matahari berbentuk planetarium nebula yang terdiri dari inti yang menyala dilingkupi oleh selubung partikel yang berlapis-lapis, reaksi inti berhenti di tahap ini. Lontaran massa terus terjadi, ukuran Matahari berkurang mencapai seukuran Bumi. Matahari mendingin menjadi bintang katai putih. Lama kelamaan energi yang terkandung dalam Matahari semakin berkurang dan warnanya memudar. Matahari mengakhiri hidupnya sebagai bintang katai hitam. Evolusi Matahari dari lahir hingga akhir hayatnya membenarkan pernyataan bahwa tidak ada yang abadi, bahkan alam semesta sekalipun. Segala sesuatu pasti berubah, termasuk manusia dan kehidupannya. Maka teruslah bergerak dan lakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Karena jika kamu diam, maka hidup akan tetap bergerak meninggalkanmu. Editor: Isyfa

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Dampak Patah Hati Terhadap Psikologis Remaja

Sabtu, 4 Februari 2023 | 07:53 WIB

Warisan Tersembunyi di Geopark Silokek

Rabu, 18 Januari 2023 | 12:00 WIB

Mari Berpetualang ke Karimunjawa, Cagar Biosfer Dunia

Minggu, 15 Januari 2023 | 10:00 WIB

Cara Mengatasi Burnout, Yuk Coba!

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:00 WIB

Rezeki Bukan Hanya Gaji (Part 2)

Senin, 26 Desember 2022 | 08:38 WIB

Rezeki Bukan Hanya Gaji

Senin, 26 Desember 2022 | 07:58 WIB

Sering Disangka Sama, Ini Perbedaan Antara Pilek dan Flu

Minggu, 20 November 2022 | 12:30 WIB
X