• Kamis, 7 Juli 2022

Inilah Trik Jitu Menaklukan Misteri Kehidupan Menurut Falsafah Jawa

- Jumat, 5 Februari 2021 | 13:29 WIB
20190917085225
20190917085225

Ditulis oleh : Mohammad Hazmi Fauzan (Peserta lomba karya tulis jurnalistik 2021) Opini - Sejatinya kehidupan adalah perjalanan dari kesementaraan menuju keabadian. Tak ayal dalam menjalaninya pun penuh liku dan rintangan. Kadang beberapa misteri kehidupan datang dalam kondisi yang serba mendadak, menuntut setiap manusia untuk siap menjalani dan mengatasinya. Cobaan dan ujian merupakan suatu keniscayaan, yang mana itu tak bisa lepas dari kehidupan setiap insan. Ia memaksa agar kita bisa melewatinya.  Seperti ungkapan Socrates “hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak berharga.” Lebih lanjut menurut Epicurus “semakin besar kesulitan, maka akan semakin besar kebahagiaan saat menaklukannya.” Sehubungan dengan kebahagiaan, dalam konsep Kawruh Begjanya; Ki Ageng Suryomentaram mengajarkan kita bagaimana menghadapi segala kemungkinan yang akan kita hadapi di depan. Menurutnya, sudah sepatutnya kita tidak terus berharap “semoga selalu senang” atau “jangan sampai kita susah”, akan tetapi pahami alur senang dan susah, maka disitu kita bisa tabah.

Falsafah Jawa sebagai ilmu kehidupan

Dalam tradisi keilmuan di Nusantara, Indonesia memiliki banyak tokoh yang menaruh perhatian lebih terhadap ilmu kehidupan. Salah satu diantaranya yaitu Falsafah Jawa yang bagi orang Jawa itu sendiri, sudah menjadi  acuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satu konsep pengetahuan kehidupan yang hingga kini masih dikaji oleh sebagian orang, yaitu cakra-manggilingan. Kata cakra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya cakram/roda, sedangkan manggilingan berasal dari bahasa Jawa yaitu giling yang artinya berputar. Jadi menurut konsep ini, kehidupan ini tak lebih seperti roda, yang mana segala sesuatunya senantiasa berputar. Ada kalanya di atas, ada kalanya pula di bawah. Seperti dalam istilahnya Ki Ageng Suryomentaram, ia menjelaskan bahwa kadang kala kehidupan ini senang, mulur, tidak tercapai, sedih, mungkret, tercapai. Terus saja seperti itu. Hingga pada saatnya manusia mengerti bahwa rasa orang di dunia sama saja, yaitu sebentar senang dan sebentar susah, maka bebaslah ia dari penderitaan penyakit iri hati dan kesombongan. Orientasi hidup yang biasa dikenal masyarakat Jawa dalam memegang prinsip cakra-manggilingan yaitu sangkan paraning dumadi. Ini merupakan salah satu konsep yang mengajarkan agar kita paham bahwa keberadaan manusia pada hakikatnya merupakan hasil ciptaan Tuhan yang Maha Pencipta yang kelak pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Dalam bahasa Al-Quran dikenal dengan sebutan “Innalillahi wainna ilaihi raji’un” (QS. Al-Baqarah: 156) Dalam konsep lain, orientasi hidup memedomani cakra-manggilingan ialah memayu hayuning bewana. Konsep ini berarti memperindah keindahan dunia. Artinya, ketika manusia diberi anugerah kehidupan di dunia yang indah, maka perindahlah kehidupan dengan memberi makna hidup yang sesungguhnya. Yaitu menanamkan kebaikan untuk mendapatkan hasil yang baik dan mengendapkan nafsu agar lebih terkendali. Dalam hal ini, konsep tersebut ingin mengajarkan bahwa jika dalam kaitannya dengan Sang Kuasa, maka orientasinya adalah sangkan paraning dumadi. Sementara jika dalam kaitannya dengan alam semesta, maka orientasinya adalah memayu hayuning bewana.

Ojo Dumeh

Sesuatu yang mesti dipahami selanjutnya ialah ragam cara menyikapi cakra-manggilingan. Sebagaimana setiap masalah menuntut untuk mendapatkan sebuah jawaban, maka setiap misteri kehidupan menuntut untuk mendapatkan sebuah solusi. Diantara cara menyikapi cakra-manggilingan, yang juga masyhur di kalangan masyarakat Jawa ialah ojo dumeh, eling lan waspada. Yang dimaksud dengan ojo dumeh yaitu jangan berlaku sombong. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang banyak disinggung dalam Al-Quran. Lalu eling lan waspada. Esensinya sama, yaitu sebuah bentuk kesadaran, hanya saja eling itu bentuk kesadaran vertikal (terhadap Tuhan), sementara waspada itu bentuk kesadaran horizontal (terhadap manusia). Maksud dari hal tersebut adalah ketika manusia menjalani kehidupan, hendaknya selalu bersikap rendah hati, tidak sombong kepada siapapun dan dalam hal apapun. Sehingga dalam laku masyarakat tercipta kehidupan yang harmonis tanpa kesenjangan. Dalam kelanjutannya, konsep tersebut menjelaskan bahwa sudah semestinya pula manusia itu mesti sadar. Sadar bahwa kehidupan ini tak lain ialah bentuk ibadah kepada Tuhan, sehingga tak akan lalai kepada-Nya (eling); Dan juga sadar bahwa sejatinya dalam kehidupan ia dituntut untuk bersosialisasi kepada sesama, sehingga menumbuhkan sikap waspada. Dalam ragam yang lain, konsep selanjutnya untuk menyikapi cakra-manggilingan yaitu diantaranya alon-alon waton kelakon, becik ketitik ala ketara, & Gusti Allah ora sare. Yang mana artinya yaitu dalam proses menjalani kehidupan yang terpenting adalah fokus pada hasilnya, mau mengikuti proses, dan tidak terburu-buru. Karena barang siapa yang melakukan kebaikan ia akan terlihat, barang siapa yang melakukan keburukan, ia juga akan terlihat. Sehingga pada akhirnya tercapai kesadaran puncak bahwa setiap sesuatu tidak terlepas dari pengawasan Tuhan, karena Gusti Allah ora sare (Gusti Allah tidak tidur).

Falsafah Jawa dan Al Quran

Adapun korelasi keseluruhan konsep cakra-manggilingan ini dengan Al-Quran, yaitu sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang dzalim” (QS. Ali Imran: 140) Ayat ini seakan menjadi penghibur bagi kaum muslim yang mengalami kekalahan pada Perang Uhud, yang mana kemenangan itu pada hakikatnya Allah lah yang pergilirkan diantara mereka, agar hal itu menjadi pelajaran bagi semuanya. Begitupun dengan kita, yang dalam kehidupan pasti selalu menghadapi kesulitan demi kesulitan. Hal tersebut menjadi pengingat agar kita hendaknya selalu kembalikan segala sesuatunya kepada Allah SWT karena yang namanya kesulitan tidak bersifat selamanya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran yang artinya “sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap” (QS. Al-Insyirah: 6-8) Editor: Dita Alverina

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X