• Kamis, 7 Juli 2022

Menguak Makna Di Balik Tabir Sumpah Pemuda Bersama Prof. Ahmad Mansur Suryanegara

- Selasa, 27 Oktober 2020 | 10:48 WIB
mansur
mansur

Ngaderes.com - Dalam rangka menyambut peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober nanti, Graha Dhuafa Indonesia melalui sub Volunteer Sahabat Baik menghadirkan sejarawan sekaligus penulis buku best seller Api Sejarah, Prof. Ahmad Mansur Suryanegara sebagai pembicara pada kajian sahabat baik yang diselenggarakan di Kadatuan Koffie, jalan Karawitan Turangga Kec. Lengkong Bandung pada Ahad pagi (25/10/2020). Kajian sahabat baik kali ini mengangkat tema "Dibalik tabir Sumpah Pemuda sebagai refleksi atas perjuangan para pemuda Indonesia dalam menegakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia". Mansur, begitu ia ingin dipanggil, menyatakan bahwa Sumpah Pemuda menjadi momentum persatuan bangsa dari berbagai suku bangsa di seluruh penjuru negeri. Sumpah Pemuda lahir sebagai manifestasi dari kongres pemuda II yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Pada hari kedua kongres tersebut lahirlah tiga butir sumpah pemuda yang berbunyi: Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. "Istilah penyebutan suku pada masa itu diganti dengan sebutan nama kota kelahiran. Hal itu dianggap sebagai usaha dalam mempersatukan keragaman yang ada. Maka istilah kesukuan seperti orang sunda, orang minang, orang bugis digantikan menjadi orang Bandung, orang Padang, orang Makasar," papar Mansur pada peserta kajian yang ada di hadapannya. Selain itu, Mansur melanjutkan narasi yang digunakan pada butir ketiga Sumpah Pemuda adalah menjunjung bahasa persatuan dan bukan berbahasa satu. Karena bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku dengan masing-masing bahasanya yang berbeda namun dipersatukan oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Bangga Jadi Bangsa Indonesia

Sejarawan kelahiran 1935 ini menambahkan bahwa wilayah Lampung masih lebih besar dari Belgia, besarnya Prancis setara dengan Kalimantan. Sehingga deretan pulau dengan luas wilayah laut terbesar, suku bangsa yang berbeda bisa disatukan dalam satu negara Indonesia. "Ini merupakan satu hal yang tidak dimiliki oleh bangsa manapun dan semestinya kita patut berbangga diri dengan segala kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini sejak dahulu," tutur Mansur dengan bangga. Dalam kajian tersebut Mansur memaparkan bahwa kita selaku bangsa Indonesia telah banyak melupakan sejarah. Banyaknya kepentingan dari pihak yang tidak bertanggung jawab menyebabkan banyak sejarah dibungkam. “Sejarah itu perubahan, sebagaimana pohon dari akar menjadi besar. Segala sesuatu yang terjadi itu karena ide. Namun, ide hadir dari seorang the greatman. Bung Karno pemimpin besar mampu melahirkan revolusi bagi bangsa Indonesia dan mampu terlepas dari cengkraman penjajah. Bangsa Arab akan menjadi masyarakat yang sengsara, namun karena hadirnya seorang the greatman Muhammad, bangsa Arab menjadi bangsa yang maju," tutup Mansur. Pagi itu, meski jumlah kursi yang disediakan penyelenggara hanya lima belas, mengingat masih dalam situasi pandemi, namun tidak memudarkan antusiasme seluruh peserta yang hadir memenuhi seisi ruangan. Banyak dari peserta kajian yang tidak mendapatkan kursi lantaran kuota yang sudah penuh, namun masih tetap bisa mengakses berlangsungnya kajian tersebut melalui live streaming youtube dan instagram sahabat baik. Penulis: Haris Editor: Intan Resika

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X