Doa Nabi Adam
Foto: pexels.com

Khazanah — Salah satu doa Nabi Adam a.s, manakala Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa menyesali perbuatan karena telah melanggar larangan makan buah huldi ketika di surga. Penyesalan keduanya diabadikan dalam Alquran Surah Al-‘Araf ayat 23.

Doa nabi adam

Qala Rabbana dhalamna anfusana wain lam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin.

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Saat di dunia, penderitaan Nabi Adam juga belum berakhir. Beliau harus terpisah dari Siti Hawa selama 300 tahun lebih. Selama itu, Nabi Adam selalu memanjatkan doa pengakuan kesalahan dan memohon ampun kepada Allah SWT.

 

Berbuat dosa sama dengan menzalimi diri

Dilansir dari Islami.co, Imam at-Thabari dalam tafsir-nya menyebutkan bahwa maksud dari kata ‘menzalimi diri kami sendiri’ merupakan kalimat penyesalan karena telah melakukan keburukan yang justru merugikan diri sendiri.

Ini menunjukkan bahwa saat seseorang melakukan keburukan, ternyata akan merugikan dirinya sendiri. Selain itu, dalam doa nabi Adam tersebut juga meminta agar taubatnya diterima. Kalimat ‘wa tarhamna lanakunanna minal khasirin,’ menunjukkan jika Nabi Adam dan Hawa tidak diampuni, maka mereka akan menjadi hamba yang merugi.

Dari doa nabi Adam ini bisa diambil ibrah.  Kita sebagai manusia saat melakukan kesalahan/dosa dan hendak memohon ampun kepada Allah, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengakui kesalahan itu dengan sepenuh hati. Lalu menyesalinya, dan memohon ampunan kepada Allah. Sama seperti yang dilakukan Nabi Adam, beliau mengakuinya kepada Allah dan meminta ampunan.

Allah tahu bahwa kita punya dosa dan salah, namun kita selalu diberikan kesempatan untuk memohon ampun selagi masih diberi hidup. Mengakui, menyesali, bertaubat, berusaha tidak melakukan dosa itu, lalu diganti/ditimpa dengan amalan soleh lainnya.

Doa bukan hanya sebuah untaian kata-kata berisi keresahan, permohonan, atau pengharapan. Tetapi saat itu adalah momen penting terjadinya komunikasi vertikal antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Kita meyakini bahwa manusia itu mahluk lemah tanpa adanya pertolongan Allah, jadi teruslah berdoa, memohon ampunan kepada Allah. Wallahu a’lam.

Penulis : Dita F.A

Editor: falve

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here