Candi Cangkuang

Ngaderes.com – 9 Desember 1966, jauh sebelum Candi Cangkuang berdiri seperti penampakannya hari ini, ditemukan sebuah buku kuno yang ditulis oleh seorang warga Belanda bernama Vooderman. Amat tak disangka bahwa buku tersebut memendam sebuah fakta bersejarah yang amat penting.

Dialah seorang arkeolog Islam bernama Uka Tjandrasasmita, sang penemu buku berisi fakta sejarah. Rasa keterkejutan tentu terpancar dalam dirinya saat fakta itu terungkap. Bahwa di sebuah tempat bernama Cangkuang, terdapat dua peninggalan sejarah berupa patung Dewa Siwa kuno dan makam seorang panglima perang kerajaan Mataram Islam era Raja Sultan Agung, dialah Embah Dalem Arif Muhammad.

Tatkala itu, muncul sebuah kejanggalan dalam benak sang arkeolog. “Bagaimana bisa sebuah peninggalan Hindu bersanding dengan makam seorang muslim?” ucap Juru Pelihara (Jupel) kawasan wisata Candi Cangkuang, Umar, menggambarkan kondisi Uka kala itu.

Dari situlah Uka memutuskan untuk mengadakan penelitian serta penggalian di Desa Cangkuang, Pulau Panjang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Membuktikan Kebenaran

Berlangsunglah penelitian dan penggalian tersebut sejak tahun 1967 hingga tahun 1968, untuk membuktikan kebenaran yang terdapat dalam buku berjudul Notulen Batavia Genootschap itu. Setelah hampir dua tahun lamanya, terbuktilah apa yang dituliskan Vooderman dalam bukunya mengenai dua peninggalan sejarah tersebut.

Namun tanpa diduga, dalam penelitian tersebut, Uka menemukan sebuah fondasi bangunan  berukuran 4,5 x 4,5 m2 di samping makam Embah Dalem Arif Muhammad. Diduga kuat bahwa fondasi itu dulunya berdiri sebuah candi sebagai tempat ibadah dan peristirahatan umat Hindu.

Fakta itu tak disebutkan dalam buku yang ditemukan Uka. Penemuan fondasi candi diperkuat dengan ditemukannya batu-batu yang diperkirakan merupakan bagian dari bangunan candi.

Tak seorang pun dari warga sekitar yang menyadari keberadaan benda-benda bersejarah tersebut, termasuk keberadaan candi. Bahkan lahan ditemukannya fondasi candi sempat dijadikan pemakaman oleh warga.

Akhirnya Uka memutuskan untuk melakukan pemugaran pada candi tahun 1974 sampai 1976. Keputusan tersebut sempat memicu konflik warga sekitar. Pasalnya, penduduk yang mayoritas muslim itu takut jika candi kembali berdiri, maka ajaran Hindu akan kembali hidup di lingkungan mereka.

“Bapa juga kurang tau konfliknya seperti apa. Tapi memang ada banyak warga yang tidak setuju kala itu untuk mendirikan candi kembali. Penyebabnya, yaaa mereka takut jika ajaran Hindu muncul kembali,” ujar Umar dalam pemaparannya mengenai sejarah Candi Cangkuang, Jum’at (08/05/2015).

Simbol Kerukunan Umat Beda Agama

Namun pada akhirnya Uka berhasil meyakinkan warga dengan alasan, candi tersebut nantinya akan menjadi simbol kerukunan umat beda agama, khususnya antara agama Hindu dan Islam. Sehingga bisa menjadi pelajaran bagi setiap generasi bangsa Indonesia. Hingga saat ini Candi Cangkuang masih berdiri kokoh.

Nama Cangkuang sendiri diambil dari nama desa dan sebuah pohon bernama pohon Cangkuang. Sayangnya, keberadaan Candi Cangkuang tidak diketahui peninggalan siapa dan kerajaan apa. Karena hingga saat ini prasastinya belum ditemukan.

Bentuk candi yang sekarang pun bukan asli, melainkan hanya perkiraan para arkeolog yang didasari dari petunjuk relief batu-batu asli candi, berupa guratan-guratan kabur. Dan para arkeolog memutuskan bahwa Candi Cangkuang merupakan peninggalan Hindu abad ke-8.

Reporter: Intan Resika
Editor: Intan Resika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here