media sosial
Foto: Pixabay

Opini – Era teknologi seperti sekarang membuat Kita menjadi sangat familiar bahkan seperti sudah ‘ketergantungan’ dengan gadget. Ditambah dengan kondisi wabah pandemi corona yang masih ada di sekitar Kita mengharuskan Kita untuk melakukan banyak hal dari rumah. Dari mulai sekolah, bekerja, beribadah dan bahkan bersosialisasi dengan kawan maupun sanak saudara. Telah menjadi ketentuan yang sudah ditetapkan Alloh bagi Kita mahluknya yang hanya bisa mengikuti segala ketetapan Alloh yang insyaAlloh pasti akan ada hikmah yang baik setelah ini.

Bersosialisasi dengan orang lain amat sangat penting bagi Kita manusia sebagai mahluk sosial. Menjaga silaturahmi dengan orang lain, para kerabat maupun tetangga telah diajarkan islam secara mendalam bahwa silaturahmi bukan hanya menjaga komunikasi tetapi juga menjalin tali persaudaraan serta menjadi sarana beribadah pula untuk saling mengingatkan.

Namun fenomena yang ada sekarang ini silaturahmi bisa kurang termaknai atau bahkan ternodai dengan hal-hal yang menjadi kendala entah karena keterbatasan kemampuan aplikasi yang ada ataukah memang masih kurang luasnya pemaknaan Kita tentang menjaga silaturahmi.

Sepertinya updet aktivitas melalui media sosial telah menjadi makanan Kita sehari-hari, tak jarang orang di sekitar Kita memviralkan sesuatu hal hanya untuk menambah followers atau menjadi terkenal, atau mungkin bahkan viral itu sendiri sebagai tujuan, entah ada atau tidaknya manfaat yang didapat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Saya pribadi tergerak untuk sekadar saling mengingatkan tidak pun saya lebih baik dalam hal ini, hanya ingin mencoba mengkritisi dan memahami bahwa dengan adanya media sosial yang ada sekarang jangan sampai membuat Kita terjebak pada ‘bungkus’dan melupakan urgensi/hakikatnya.

Bukan berarti Saya tidak membolehkan untuk sekadar memajang foto kegiatan keseharian atau mengapdet apa yang Anda beli atau lakukan, tetapi bijaklah dalam mempublikasikan dan mengomentari sesuatu di media sosial dengan menelisik lagi di hati yang paling dalam, niat kita di balik itu apa, bukan ingin membuat Anda jadi ribet tapi hanya ingin mencoba memahami fenomena yang ada. Bukankah hadist rasululloh tentang apa yang Kita niatkan menjadi landasan Kita dalam beramal, karena apa yang Kita niatkan sebesar itu pula yang akan Kita dapatkan berikut Saya sertakan terjemah hadistnya.

Hadits Tentang Niat:

Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatantergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR. Bukhary).

Kedalaman niat seseorang tak ada yang mengetahui kecuali dirinya dan Alloh SWT. Saya analogikan seperti biji beras, bulir beras berwarna putih atau biasa disebut endosperma diselubungi oleh kurang lebih 3 lapisan luar (mohon maaf jika kurang tepat), dimana si endosperma itu Saya umpamakan sebagai amal yang murni kepada Alloh kemudian lapisan luar tersebut adalah niatnya, umpamanya di setiap lapisan itu terdapat tulisan maka ketika dibuka lapisan pertama adalah karena Alloh dan untuk Alloh, dibuka lagi lapisan kedua ketiga dan seterusnya akan didapati Alloh lagi Alloh lagi. Jadi Saya pikir amat penting untuk memelihara niat, bahkan sama pentingnya dengan melakukan amalnya.

Berkaitan dengan tujuan beramal berikut Saya kutip pernyataan imam besar masjid istiqlal KH. Nasarudin Umar di salah satu tayangan tv bahwa ada tingkatan lain di atas ikhlas atau puncaknya ikhlas yaitu mukhlas (QS Al-Hijr : 40). Orang yang mukhlas adalah orang yang sudah melupakan kebaikan-kebaikannya kepada orang lain, yang menganggap bahwa cacian dan pujian sama saja tidak ada bedanya, yang menjadikan ibadah wajib dan sunat sama saja (sunat setara dengan wajib), yang menjadikan makruh dan haram sama saja tidak ada bedanya (makruh setara dengan haram).

Sangat berhubungan dengan kondisi sekarang dimana orang beramai-ramai untuk menjadi terkenal atau viral hanya saja justru bagi orang yang mukhlas keterkenalannya bisa jadi dia anggap sebagai hijab antara dirinya dengan Alloh. Maknanya adalah bahwa pada kondisi seperti saat ini dimana segala hal apapun dipublikasikan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi sampai hal yang bersifat pribadi pun dibuka auratnya, justru dengan kondisi seperti itu Kita jangan sampai kehilangan hakikatnya bahwa yang menjadi penting adalah bagaimana Alloh memandang diri kita, setiap yang kita publikasikan menjadikan kita terkenal di hadapan Alloh bukan di hadapan manusia, terlepas dari apapun yang kita publikasikan. Saya kira menjadi viral atau terkenal, mendapatkan followers, dll di dunia itu hanya bonus dari Alloh, yang lebih penting adalah menjaga kebersihan niat dan amal itu sendiri baik dipublikasikan atau tidak, orang-orang tahu atau tidak, ga ambil pusing yang terpenting bagi orang yang mukhlas adalah dia hadir di daftar hadirnya Alloh itu sudah cukup baginya.

Semoga bisa membuka wacana berpikir Kita dalam bermedia sosial.

Penulis: Reta Roslita
Editor: Isyfa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here