Abu Ubaidah Al Jarrah
Foto: pixabay.com

Ngaderes.com – Siapa mampu menahan rindu bertemu sanak keluarga. Apalagi jelang Idul Fitri. Momen mudik menjadi hal yang paling dinanti.

Terlebih setelah pemerintah resmi mengeluarkan peraturan mengenai pengendalian transportasi selama mudik Idul Fitri tahun ini melalui Peraturan Menteri No. 25 Tahun 2020.

Mau tak mau, kebijakan ini tak lain bagian dari upaya pemerintah untuk menurunkan laju pertumbuhan penyebaran wabah Covid-19. Ditetapkan masyarakat dilarang untuk mudik mulai dari 24 April hingga 31 Mei 2020.

“Permenhub tersebut telah ditetapkan pada tanggal 23 April 2020 sebagai tindak lanjut dari kebijakan pemerintah untuk melarang mudik pada tahun ini dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19,” kata Juru Bicara Kementrian Perhubungan, Adita Irawati, Kamis (23/4/2020) sebagaimana dilansir laman dephub.go.id

Tradisi Mudik di Indonesia Jelang Idul Fitri

Indonesia adalah dengan mayoritas masyarakat muslim terbesar di dunia. Di tahun 2020 Globalreligiusfuture memperkirakan penduduk muslim Indonesia akan mencapai 229,62 juta jiwa. Jumlah ini berarti penganut agama Islam di Indonesia mencapai 84 persen dari total jumlah penduduk yang diprediksi BPS pada 2020 akan mencapai 271 juta jiwa.

Untuk itu tidak perlu heran ketika Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) selalu menyajikan gempitanya. Salah satunya pada momen Idul Fitri. Tradisi yang terkenal dari masyarakat muslim Indonesia untuk menyambut hari kemenangan setelah menjalankan ibadah Saum selama satu bulan penuh salah satunya adalah  mudik. Idul FItri menjadi medium berkumpulnya keluarga yang selama sebelas bulan sebelumnya terasa berjarak.

Di Indonesia tradisi mudik lebaran bukan sekadar tradisi tahunan semata. Jauh dari itu, momen ini adalah saat dimana kita mulang ke udik untuk rekalibrasi diri secara sosial dan spiritual.

Hingga tak heran ketika budaya mudik ini telah mapan dan menjadi suatu yang tidak boleh dilewatkan bagi para pelancong untuk kembali ke kampungnya, mudik tidak lagi sebaatas tradisi komunal yang melibatkan orang banyak setiap tahunnya melainkan juga substansinya hingga dimaknai sebagai perjalanan religius dan spiritual.

Menurut data Kementrian Perhubungan, angka pemudik setiap tahunnya selalu tinggi. Salah satunya bagi pengguna sepeda motor. Pada 2015 tercatat 2,52 juta unit motor yang digunakan mudik, lalu angkanya meningkat dua kali lipat pada 2016 menjadi 5,6 juta. Angka ini terus meningkat di 2018 mencapai 8,5 juta unit motor yang digunakan untuk mudik.

Kisah Haru Abu Ubaidah Menahan Mudik Saat Wabah Amwas di Masa Khalifah Umar Bin Khatab

Di tengah pandemi corona segala macam aspek kehidupan terasa begitu berbeda. Mulai dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga ibadah pun terkena dampaknya. Ditambah kali ini momentum Ramadan yang biasanya hangat dengan ciri khas suasananya terasa amat berbeda kala menjalaninya bersamaan dengan adanya wabah Corona.

Jika kita mengacu pada sejarah, wabah telah terjadi beberapa kali. Mulai dari Spanish Flu, Kolera di Haiti, Ebola di Afrika Barat dan kini Corona.

Selain yang disebutkan tadi, ternyata zaman kepemimpinan Umar bin Khattab pun pernah diguncang wabah. Wabah tersebut terkenal dengan wabah Amwas. Penamaan ini diambil karena pada saat itu wabah Amwas berkecamuk di daerah Amwas di bilangan Palestina kemudian menjalar ke Syam.

Wabah yang berlangsung dalam kisaran sebulan tersebut telah menelan korban hingga 25.000 orang. Termasuk di dalamnya orang-orang penting dan terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Muaz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, dan lain sebagainya.

Ganasnya wabah ini menjadi penyebab meninggalnya Haris bin Hisyam yang berangkat dari Madinah ke Syam dengan tujuh puluh orang anggota keluarganya dan semuanya tewas kecuali empat orang yang selamat (Husain Haekal, 2001:365).

Pesan Umar kepada Abu Ubaidah yang sedang bertugas di Syam

Tatkala wabah Amwas semakin membuat panik dan was-was, perasaan itu pun juga berkecamuk di kepala sang khalifah, Umar bin Khattab. Kekhawatiran Umar tak lain memikirkan nasib Abu Ubaidah bin Jarrah yang saat itu sedang memimpin pasukan di Syam.

Umar memandang Abu Ubaidah adalah satu-satunya orang yang diharapkan untuk melanjutkan estafeta kekhalifahan. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan karena menghindari gugurnya Abu Ubaidah disebabkan wabah ini.

Salah satu cara untuk mengeluarkan Abu Ubaidah dari tanah Syam tersebut, Umar memutar otak hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk “merayu” Abu Ubaidah dengan sepucuk surat.

“Salam bagimu wahai Gurbernur, aku punya urusan yang harus aku bicarakan denganmu, maka aku putuskan bahwa janganlah engkau abaikan surat ini setelah membacanya. Temuilah aku,” tulis Umar.

Membaca surat itu Abu Ubaidah tahu kemana arah yang diinginkan oleh Umar. Surat tersebut seakan isyarat kepada Abu Ubaidah untuk segera mudik dan meninggalkan daerah Syam karena tengah terjadi wabah yang hebat. Sedangkan Umar memposisikan sebagai sahabatnya yang tak ingin karam ditelan wabah sedangkan masih ada perjuangan yang harus dilanjutkan setelahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, aku sudah tahu urusan yang engkau maksud, sedangkan aku tidak sedikitpun menemukan rasa benci hati kepada para pasukan Allah ini (Tha’un Amwas). Aku tak mau meninggalkan mereka hingga takdir Allah benar-benar menggoncang loyalitas mereka terhadap perintah dan takdir-Nya. Aku mohon bebaskanlah aku dari keputusanmu Amirul Mukminin,” balas Abu Ubaidah.

Meneladani Abu Ubaidah Menahan Pulang kembali ke Tempat Asal  Sebagai Bukti Cinta

Menyaksikan bagaimana sejarah berbicara wabah hingga tak tanggung memakan banyak korban dari berbagai kalangan. Maka menahan untuk bercengkrama bersama sanak saudara ketika jarak memisahkan sekian lama adalah bukti cinta.

Cinta dalam artian berjaga jika kemungkinan ketika kita mulang ke udik membawa virus, atau kemungkinan kita tertular virus di tempat yang kita tuju.

Dalam pandangan syariah, menahannya kita untuk tidak mudik sebagai bentuk pelaksanaan menjaga jiwa atau dalam maqashidu al-syariah disebut hifdzu al-nafs.

Selain itu, sebagaimana dikatakan Rasullulah ketika terjadinya wabah kita dihimbau untuk menahan diri atau dengan bahasa kekinian disebut karantina. Memang dahulu pernah terjadi dan demikian kisahnya.

Penulis : Rizal Sunandar
Editor : Sasa

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here