Ngaderes.com – Sabtu (18/01/2020) UXiD Bandung bersama dengan Lingkar Inovator mengadakan diskusi publik pertamanya yang bertemakan “Artificial Intelligence (AI) on Our Everyday Life” di Innovation Factory Block71 Bandung.

Acara ini menghadirkan pembicara dari beberapa disiplin ilmu, diantaranya penggunaan Artificial Intelligence (AI) ditinjau dari sisi desainer atau User Interface (UI) dan User Experience (UX) expert yang dijelaskan oleh Bayu Bagja dari Giza Lab beserta Cordovansyah dari Lingkar Inovator. Kemudian dibahas juga dari sisi bisnisnya yang disampaikan oleh Panji Prabowo CEO dari start up Qiwii, dan juga dari sudut pandang data yang disampaikan oleh Rizki Rusdiwijaya, selaku Kepala Bagian Data di Jabar Digital Service.

Bahasan mengenai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, kini sedang lumayan marak diperbincangkan di negara Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UXiD bersama dengan Lingar Inovator bermaksud untuk mengajak semua kalangan untuk bisa sama-sama mengenali sejauh mana penggunaan AI ini sendiri dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Nah, tapi sadar tidak yah kita dengan penggunaan AI itu sendiri? Pembicaraannya memang sedang marak, apalagi setelah munculnya Sofia robot buatan United Arab Emirates (UAE) yang bahkan sampai diwawancara oleh artis kenamaan Amerika, Will Smith. Tapi, meski ramai, tapi ternyata masih banyak juga yang belum paham tentang AI itu sendiri.

Jadi, dalam pembahasannya, dikarenakan banyak orang yang sebenarnya mungkin belum kenal dengan AI itu sendiri, padahal sudah sering menggunakannya, Kang Bayu, dari Giza sedikit memberikan pandangannya mengenai AI. Ia menyebutkan, bahwa sebelum dirinya mempelajari lebih lanjut mengenai AI, sempat ada pemikiran bahwa, suatu hari nampaknya AI yang diciptakan ini bisa saja menguasai kehidupan di bumi.

Artificial Intelligence

“Saya sempat berpikir karena saya bekerja di bidang desain, saya sempat merasa bahwa dunia ini atau pekerjaan saya ini, mungkin akan digantikan oleh AI ini,” tutur Bayu membuka diskusi tersebut.

Menurut Bayu, setelah dirinya melakukan beberapa riset mengenai AI, memang nanti ke depan bahkan mungkin sekarang ada beberapa pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI. Tapi pemegang keputusan dan kontrolnya tetap ada pada manusia, sehingga dirinya menjadi tak terlalu khawatir. Ia justru bersyukur dengan adanya AI tersebut, karena sangat membantu mengefektifkan pekerjaan sebagai desainer.

“Keberadaan AI ini kebanyakan akan menggantikan pekerjaan yang sifatnya repetitif dan yang jenjang karirnya sempit,” tambahnya.

Pembahasan dilanjutkan dengan membahas AI dari sudut pandang bisnis dan juga data. Dalam dunia AI, data adalah hal paling utama yang dibutuhkan dalam membantu AI itu bisa berjalan. Seperti banyaknya aplikasi yang kita gunakan sehari-hari saat ini, misal ketika daftar aplikasi kesehatan, e-commerce, penggunaan Ojek Online (Ojol), dan lainnya pastilah harus memasukkan data sebagai prasyarat kita terdaftar sebagai pengguna. Termasuk kini, di dunia pemerintahan pun sedang merujuk untuk lebih digital lagi dalam pengumpulan dan perapihan administrasi warga negaranya.

“Dalam pembuatan AI, data itu sangatlah penting. Seperti contoh, ketika kita memasukkan hal yang kita suka di keyboard Google, maka data itu akan tersimpan sebagai tolak ukur Google dalam memilih memunculkan kata yang sering kita ketik-an. Atau kalau mungkin teman-teman pernah klik ‘captcha’, secara tidak langsung kita juga sedang mengajari AI Google untuk mengidentifikasi suatu hal untuk kemudian nantinya menjadi bank data mereka. Begitupun ketika di e-commerce, barang yang sering kita lihat, itu akan memberikan masukkan untuk AI e-commerce tersebut dalam memberikan iklannya kepada kita semua, ” ungkap Panji Prabowo.

Maka dari itu, Panji menambahkan, jika di dunia bisnis, keberadaan AI ini sungguh sangat menguntungkan juga memberikan efektivitas dan efisiensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pekerjaanya.

Ditambahkan oleh Rizki, selaku Kepala Bagian data di Jabar Digital Service, mengungkapkan bahwa memang data ini sangatlah penting kedudukannya dalam membangun AI untuk ke depannya agar bisa mengotomasi kebutuhan tiap orang nya. ” Meski banyak juga yang perlu diwaspadai dari banyaknya data personal yang masuk ke sistem AI ini nantinya,” tambahnya.

Mungkin dari kita ada yang masih ingat, seperti kejadian beberapa waktu lalu, ketika pemilik Facebook, Mark Zuckerberg dituntut atas pertanggungjawabannya terhadap data jutaan umat manusia yang terek di Facebook.

“Jadi, memang berurusan dengan data personal banyak orang dan lagi di dunia yang sudah serba teknologi ini tidaklah bisa dibilang mudah dan aman juga. Banyak hal masih harus diperbaiki dan ditingkatkan lagi dari sisi keamanan utamanya, dan juga dari sisi yang dibutuhkan lainnya. Oleh karenanya, saat ini pemerintah pun sedang menggodok agar undang-undang yang berkaitan dengan AI dan juga yang sifatnya teknologi digital ini bisa segera rampung. Sehingga kita bisa sedikitnya merasa aman dengan adanya data kita yang disimpan di sistem nanti,” pungkasnya.

Di akhir, moderator yang dipimpin oleh Sopian Gunawan dari UXiD menyimpulkan, bahwa pada intinya keberadaan AI ini, memang sangatlah bermanfaat bagi manusia yang bisa memanfaatkannya. Oleh karenanya jangan sampai kita sebagai manusia terkalahkan oleh kecerdasan buatan yang kita buat sendiri.

Reporter : Nia Yuniati
Editor: Intan Resika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here