ahmad hassan
Foto: hidayatullah.com

Ngaderes.com – Namanya memang tak setenar Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah (1912), kepopulerannya pun kalah jauh dengan Hasyim Asy’ari sang Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) (1926). Tetapi siapa yang bisa membantah bahwa Ahmad Hassan adalah sosok yang disegani lawan dan dihormati kawan. Sosok yang sudah sangat familiar di kalangan Jamiah Persatuan Islam (Persis) (1923) ini bak oase di tengah tandusnya dunia keislaman yang saat itu penuh dengan pola pikir kejumudan.

Lahir di Singapura pada 1887, A. Hassan atau kerap disapa Hassan Bandung atau Hassan Bangil ini merupakan anak berdarah campuran yang lahir dari dua kebudayaan berbeda, yakni Indonesia dan India. Ayahnya, Sinna Vappu Maricar yang terkenal sebagai seorang jurnalis, penulis, dan ulama terkenal di Singapura menjadikan sosok A. Hassan secara genealogi kuat akan tradisi keilmuan.

Perjalanan Hassan menuju Indonesia dimulai ketika ia berniat untuk berniaga dan indekos di rumah K.H. Muhammad Yunus, sang pendiri Persis. Atas kecerdasan pikiran disertai kedalaman ilmu agama yang mumpuni membuat tokoh-tokoh Persis memintanya untuk menetap di Bandung dan bersentuhan dengan Persis setelah organisasi keislaman ini berumur satu setengah tahun. Untuk itu, A. Hassan bukanlah pendiri Persis, namun seiring berjalannya waktu A. Hassan relevan disebut sebagai guru Persis.

Corak pikiran Persis, menurut Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia, berbeda dengan ormas lainnya. Persis seakan lebih gembira dengan polemik dan perdebatan. Maka tak heran hingga hari ini Persis kerap kali dikenal sebagai ormas yang selalu gatal untuk berdebat.

A. Hassan dan Debat

Karena telah lekat untuk diasosiasikan bersama Persis, A. Hassan menjadi prototipe jalannya dakwah Persis pada saat itu. Tanpa menegasikan tokoh lainnya, Deliar Noer menyebut Persis sering kali menantang orang-orang yang bersebrangan untuk berdebat. Salah satunya ditunjukan oleh A. Hassan. Sebut saja perdebaan dengan organisasi berbasis tradisionalis seperti NU. A. Hassan beradu argumen langsung dengan ketua NU saat itu, K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Seperti yang diulas oleh Tirto.id (15/6/2019) Ahmad Hassan sebagaimana telah dinarasikan oleh Buya Hamka dalam buku berjudul Teguran Suci dan Jujur Terhadap Mufti Johor (1958:35).

Ada seorang pemuda mengaku murtad bernama Suradal. Dia menantang setiap ulama Islam pada saat itu untuk bermubahalah dan berdebat. Tidak ada satu pun yang berani melayaninya, mereka cukup mencelanya dengan ucapan “Suradal Kafir”.

“Tapi Tuan Hassan Bandung menjawab di forum debat terbuka di Jakarta, yang dihadiri oleh seribu orang lebih. Maka dengan gagah dan congkak pemuda itu mengeluarkan segala pokok dan taruhannya. Mulanya seakan-akan dia yang benar, tetapi setelah segalanya tantangan itu ditangkis Almarhum Tuan Hassan dengan mantik yang lebih tinggi, habislah pokok taruhan pemuda itu, tidak dapat berkutik lagi,” tulis Hamka.

Selain kepiawaiannya melemahkan lawan debat dengan dasar logika yang kuat, Hassan juga seorang orator ulung manakala telah berdiri di atas podium. Oleh kawan-kawannya, sebagaimana di sebut Tamir Djaja dalam Sejarah Hidup A. Hassan, ia dianggap garang seperti singa, namun dalam pergaulan ia dikenal ramah seperti domba. Apa yang terjadi saat berdebat tak pernah dibawa keluar arena.

Baginya, perbedaan pendapat adalah suatu hal yang biasa. Kelapangan dadalah yang dibutuhkan dalam menyikapi setiap perbedaan yang terjadi. Tidak perlu terucap caci, tidak elok untuk memaki, tak perlu ada pengusiran terhadap kelompok yang tidak sepakat. Prinsipnya lawan hujah dengan hujah, lawan dalil dengan dalil.

Sahabat Pena Soekarno

Tatkala Soekarno diasingkan ke Ende, Flores sebagai tahanan politik pada 14 Januari 1934, beliau aktif bertukar pesan dengan Ahmad Hassan. Dialog lewat surat yang berlangsung dari Desember 1934 hingga Oktober 1936 tersebut, sebagaimana tercantum dalam buku Soekarno berjudul Islam Sontoloyo, terjadi sebanyak 12 kali. Mereka saling berbalas surat itu dapat disimpulkan dari beberapa terminologi, salah satunya berbicara pembaharuan Islam.

Soekarno, dalam surat ketiganya pada A. Hassan, secara tegas menganalisa penyebab mundurnya Islam saat itu. Menurut Soekarno, kemunduran Islam disebabkan banyak orang yang berpikir kolot, kemudian juga banyak orang yang menjalankan hadis yang daif dan palsu.

Karena hadis-hadis itulah maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketakhayulan, bid’ah-bid’ah, anti rasionalisme, dan lain-lain. Padahal tak ada agama yang lebih rasional dan simplistik daripada Islam,” katanya dalam Islam Sontoloyo, hal. 13.

Sorotan Soekarno terhadap budaya taklid membuat keyakinan akan kemunduran Islam yang disebabkan oleh terbatasnya ruang-ruang ijtihad yang semakin mempersempit akal untuk digunakan sebagaimana mestinya. Pendapatnya ini diperkuat pasca dikirim oleh A. Hassan majalah Al-Lisaan yang membahas tentang taklid.

Proses tukar pikir seorang Soekarno dengan Hassan membuka cakrawala baru mengenai gerakan pembaharuan. Jalan pikiran Soekarno sedikit banyak senada dengan misi Persis sebagai organisasi tajdid. Meskipun dalam perjalanannya, selama menjadi sahabat penanya A. Hassan, Soekarno bersilang pendapat mengenai konsep agama dan negara.

Satu hal yang menarik dari keduanya adalah Soekarno kerap kali meminta untuk dikirimkan paket kitab dari A. Hassan. Mulai dari Tanya-Jawab, Jawahirul Bukhari, Majalah Al-Lisaan, dan lain sebagainya. Bahkan Soekarno tak segan meminta diskon separuh harga pada Hassan dikarenakan peminat buku-buku Persatuan Islam di Endeh sangat tinggi.

Penulis: Rizal Sunandar
Editor: Hildatun Najah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here